Maskawin yang Tak Sebanding

bersembahyang

Suatu hari Umar bin Khattab ra. memperhatikan seseorang yang bersembahyang di masjid. Orang itu bersembahyang dengan cepat dan tergesa-gesa, kemudian setelah selesai sembahyang berdoa, “Ya Allah, kawinkanlah aku dengan bidadari-Mu”

Umar pun berkata kepada orang tersebut, “Hei, bung, maskawinmu terlalu kecil untuk lamaranmu yang begitu besar”.

*********

Oleh: KH A Mustofa Bisri – Bersembahyang – Tulisan ini pertama kali terbit di gusmus.net Maskawin yang Tak Sebanding.

Ahmad Mustofa Bisri ataupun Gus Mus ataupun yang sempat diketahui selaku M. Ustov Abi Sri selaku nama pena bebarapa karyanya merupakan kiai cum sastrawan. Perihal yang terus menjadi tidak sering di era kiwari ini.

Kala arti ulama ataupun kiai tereduksi jadi juru ceramah ataupun orator agama. Sementara itu bukan perihal yang tidak sering pada era salafus shalih seseorang ulama menggemari bermacam cabang ilmu.

Semacam halnya Imam Syafii yang walaupun populer selaku pendiri mazhab fiqih, dia memiliki kitab yang berisi syair- syair buatannya sendiri bernama Diwan As-Syafii.

Bukan tanpa alibi Imam Syafii menuangkan kelihainnya bersyair jadi kiab tertentu. Syair jadi medium untuk Imam Syafii menyebarkan kalam- kalam hikmatnya, apalagi kitab antololgi syair ini telah terdapat kitab syarah( uraian) sendiri yang disusun Syaikh Muhammad Ibrahim Salim.

Baca juga:  Keluhan – Mustofa Bisri

Gus Mus juga kayaknya menjajaki jejak Imam Syafii. Tidak hanya rutinitasnya mengaji kitab- kitab salaf bersama santri, undangan ceramah yang bagi dia sendiri faedahnya sedikit, Gus Mus menulis banyak karya sastra dalam wujud puisi ataupun prosa, apalagi lukisan.

Penulis walaupun dibesarkan di area pesantren, awal kali memahami Gus Mus lewat karya cerpennya yang monumental itu, Gus Jakfar. Terpukau serta sendari sana lebih mengidentifikasi dia serta terus dari jalan sastrawinya.

Cerpen Gus Jakfar dengan lihai menguliti aspek- aspek mistisme khas pesantren tetapi dengan gampang dilahap warga awam yang bisa jadi sanksi hendak kelakuan tokoh Gus Jakfar itu sendiri selama jalannya cerita. Banyak orang pintar tetapi tidak sebanyak orang yang pintar menyederhakan isi pikirannya ke orang lain.

Dalam cerpennya yang lain, Ngelmu Sigar Raga. Lagi- lagi Gus Mus membuat penulis terpukau dengan kelihainnya membedah mistisme agama dengan pisau sastrawi. Dibalut plot cerita yang tidak tertebak serta kritik sosial yang telah digeluti Gus Mus semenjak tahun 1980an.

Dalam cerita tersebut, bukan cuma pembaca yang terlupa hendak Sigar Raga tokoh Saya hasil tabarukan ke Mbah Joned, tetapi apalagi sang tokoh Saya pula kurang ingat hendak ilmu serta amalan lamanya itu. Saya telah terbuai hendak dunia.

Baca juga:  Guruku – Mustofa Bisri

Lain lagi kala menyelami karya dia yang lebih baru, ialah Nyai Sobir( Kompas, 2011). Disana Gus Mus bukan membedah mistisme semacam di 2 karya diatas, tetapi dilema yang telah sangat kerap dialami kalangan yang menjanda.

Tokoh janda Kiai Sobir dihadapkan dengan kegundahan hati sehabis ditinggal mati oleh suaminya yang ialah sesepuh besar di daerahnya serta mengayomi ribuan santri serta masyarakat.

Selaku istri muda yang terpaut usia jauh serta dipersunting sepeninggal istrinya yang lama, kematian Kiai Sobir sontak membuat tokoh Nyai disini tiba-tiba digerus kesepian.

Gus Mus dengan apik mengantarkan isi hati seseorang janda tokoh besar. Dimana dia tiap hari hidup dalam bayang- bayang suaminya serta menyokong kesibukannya mulai semata- mata menyiap kudapan sampai mengendalikan agenda tiap hari.

Gus Mus menarasikan pergantian atmosfer kala tokoh sang janda ini kesepian ditengah hiruk- pikuk peziarah serta serangkaian tahlilan jadi mulai menarik atensi orang- orang buat dipersunting, sekalian menyuarakan dirinya yang masih menambatkan hatinya buat almarhum Kiai Sobir serta alih- alih mencari suami baru, lebih memilah menjaga peninggalan pesantren Kiai Sobir.