“Ora Usah Melu Macam-macam” | Gado-Gado Gus Mus

IPNU
ilustrasi: mojok.co

Ada suatu daerah di Jawa Tengah yang mayoritas berkultur nahdliyin (NU). Penduduk setempat sehari-sehari mengamalkan amaliah NU seperti tahlilan, qunut, wirid dan lain-lain. Aktivitas organisasi NU dan banom-banom-nya pun tumbuh subur termasuk banom pelajarnya, IPNU (Ikatan Pelajar NU).

Alkisah, di daerah tersebut, ada satu keluarga yang baru saja kehilangan sang ayah. Sebelum meninggal, si ayah tersebut berpesan kepada istrinya agar menjaga Nanang (bukan nama sebenarnya). Si ayah berharap agar putra semata wayangnya yang baru duduk di kelas X madrasah aliyah tersebut tetap berpegang pada ajaran Islam Ahlus Sunnah wal Jamaah dan tidak terpengaruh teman-temannya dari kota, yang sering mengajaknya ikut pengajian sel tertutup seperti yang sering kali kaum muda Islam di perkotaan praktikkan. Intinya, sang ayah berpesan agar putranya tersebut dapat mengikuti jejaknya menjadi aktivis NU dengan bergabung ke IPNU.

Menjelang tahun ajaran berakhir, tiba-tiba Nanang bertanya pada ibunya, ”Bu, aku mau naik ke kelas XI Aliyah, tapi aku bingung dengan pilihanku, masuk IPA atau IPS ya?”.

Baca juga:  Keluhan – Mustofa Bisri

Sang ibu pun menjawab, ”Ora usah bingung-bingung, Le. Ingat pesan bapakmu dulu. Ora usah melu (ikut) macam-macam, IPA atau IPS, melu IPNU aja, Le”, tandas sang Ibu. Lho?? 

**********

Artikel ini ditulis Oleh Gus Mus dan terbit pertama kali di gusmus.net

Mundur jauh ke balik pada akhir dekade 1980an, Gus Mus sempat merilis karya puisinya yang hingga saat ini masih langgeng serta relevan Kau Ini Gimana Ataupun Saya Wajib Gimana.

Lagi-lagi dengan lihai Gus Mus yang berbekal diksi- diksi simpel serta pengulangan perkata, membangun suatu puisi yang solid selaku kritik pada penguasa.

Memotret kondisi pada waktu itu dimana seluruh perihal didetetapkan oleh pimpinan dari seluruh pimpinan yang kerapkali dipertanyakan warga dasar yang pula tidak berani bertanya.

Dalam puisi dia yang lain, Saya Menyayangimu Sebab Kau Manusia Gus Mus dengan indah menarangkan kemanusiaan. Syair yang setelah itu beken sebab dinyanyikan oleh Iwan Fals ini menentang, mengutuk, serta melawan sekalian mencintai orang dalam satu bingkai, selaku manusia.

Disini secara intriksik mengantarkan berartinya bermacam kritik kepada manusia lain sebab mereka masih manusia, bukan Tuhan. Mencintai bukan semata- mata memuja, sebab dapat buatnya bukan lagi manusia.

Baca juga:  Menjadi Mahasiswa Malang

Sebaliknya di ukuran karyanya yang lain, Gus Mus menjelma jadi pelukis. Dia sempat membuat lukisan kontroversial bertajuk” Berdzikir Bersama Inul” yang mana menggambarkan orang- orang bersorban, berpeci, serta sarungan lagi melingkar semacam lagi berzikir serta menghadap seseorang penari di tengahnya.

Sontak panitia Minggu Muharram 1424 H di Masjid Agung Angkatan laut(AL) Akbar tempat dipamerkannya lukisan menemukan ancaman buat lekas merendahkan lukisan dari suatu kelompok pemuda islam serta mengecam hendak membakar masjid.

Lewat lukisan itu Gus Mus mengantarkan tentang hakikat zikir yang bagi dia masih banyak yang cuma sebatas daging saja serta kurang ingat hendak jiwa. Perihal ini merupakan gambaran dimana banyaknya pejabat- pejabat yang tertangkap korupsi walaupun telah haji, berarti hajinya masih sebatas daging saja. Apalagi dalam menyikapi suatu lukisan saja, orang- orang pula terdapat yang lebih mengenakan dagingnya dibandingkan jiwanya.