IPNU Nganjuk
Cak Syarif | Direktur Lembaga Pers dan Penerbitan PC IPNU Kabupaten Nganjuk 2018-2021

IPNU Nganjuk tentang Pasrah Mengikuti Arus Bak Ikan Mati dan Kotoran

CAKSYARIF.MY.ID – Seberapa besar, sih, IPNU Kabupaten Nganjuk? Layakkah IPNU Nganjuk mendapat sorotan Jakarta? Pantaskah kader IPNU Nganjuk ikut ambil bagian dalam suksesi di Kongres? Apa yang bisa menjadi tawaran oleh PC IPNU Nganjuk? Apa yang laku dari PC IPNU Nganjuk?

Sebagai kader IPNU Nganjuk kita harus sadar bahwa PC IPNU Nganjuk sudah berdiri sejak 1970-an. PC Nganjuk ikut Kongres tidak hanya sekali, dua kali, lima kali, tapi berkali-kali.

Lantas apa yang didapat dari Kongres ke Kongres? Apakah Nganjuk pernah membawa gagasan riil dari daerah dan goal dalam sidang? Pernahkah konsolidasi terkait suksesi Ketum dari internal Nganjuk sendiri? Pun melakukan komunikasi politik secara kelembagaan dengan cabang-cabang lain untuk menyuarakan gagasan dalam kongres? Juga kontrak politik jangka panjang untuk menjamin kemajuan PC IPNU Nganjuk dan generasi mendatang?

Apakah alumni IPNU Nganjuk ada yang menjadi tokoh nasional? Apakah alumni ada yang menjadi konglomerat? Bagaimana manajemen pendistribusian alumni selama ini?

Jika IPNU adalah danau, maka PC Nganjuk secara tidak sadar memposisikan dirinya sebagai gerombolan ikan-ikan yang ada dalam jaring persegi. Sedangkan jaring tersebut ialah paradigma yang diciptakan sendiri oleh mereka. Nganjuk selalu enggan menjebol jaring tersebut. Bahkan sampai PC tetangga sangat santer menilai PC tak punya keberanian apa-apa, tak punya inovasi dan gagasan apa-apa yang dapat menyentuh sumber dari danau.

Ikan-ikan Nganjuk tiap tahun selalu beranak-pinak. Tapi banyak juga yang akhirnya jenuh menjadi ikan, padahal usianya masih bau kencur. Akhirnya memutuskan keluar dari danau IPNU.

Paradigma Nganjuk Perlu Direkonstruksi

Seorang leader dalam IPNU harus punya kecerdasan yang memadahi. Pemimpin tidak cukup bisa melakukan semua hal, namun harus bisa menejemen kepengurusan, mobilisasi massa internal, cakap berkomunikasi, tidak gampang ngambek atau ceklek’an. Dan imajinasi para pemimpin harus bisa membaca jauh ke depan, tidak hanya satu periode kepengurusan.

Melalui tulisan ini saya mau bertanya kepada alumni PC Nganjuk 10 tahun yang lalu, pernahkan Rekan-Rekan senior membuat Rencana Pengembangan Organisasi Jangka Menengah dan Jangka Panjang yang harusnya terealisasi saat ini? Grand desaign PC yang Rekan-Rekan senior dulu inginkan itu seperti apa, izinkan kami tahu supaya kami bisa membantu mewujudkannya? (Asumsi kita pasti sudah bisa menjawabnya: tidak ada hal semacam itu di PC Nganjuk).

Kader Lakmud PC Nganjuk sudah tak terhitung jumlahnya. Kader Lakut juga sangat banyak, namun banyak pula yang tak terdeteksi keberadaannya.

Dalam kaderisasi formal IPNU memang tidak diajarkan politik kekuasaan. Namun, sadar atau tidak setiap kebijkan organisasi pasti membawa unsur politis. Mulai dari bagaimana cara menetapkan hasil rapat, cara memilih ketua ranting, cara memilih ketua panitia pelaksana, cara menentukan tempat rutinan, cara meloby narasumber Makesta, dll.

Jika kita membahas Grand Desaign PC Nganjuk 20 tahun ke depan, maka tidak akan lepas dengan unsur politik. Baik itu berkaitan dengan PC tentangga, PC se-Jatim, maupun se-Indonesia. Entah itu berkaitan dengan Banom NU yang lain, maupun dengan NU itu sendiri. Pun itu dengan Pemkab maupun pemerintah pusat.

PC IPNU Nganjuk memiliki 20 Kecamatan. Jika kader-kader terbaik PC Nganjuk tidak pernah menyempatkan waktunya untuk duduk melingkar membaca dan merumuskan Grand Desaign PC Nganjuk, maka sampai kapan pun PC ini akan tetap seperti ini: pasrah mengikuti arus. Padahal, sebagaimana yang kita tahu bahwa sesuatu yang selalu mengikuti arus itu hanya dua hal, yakni : ikan mati dan kotoran.[*]

_________________________________________

Tulisan ini pertama terbit di www.pelajarnungronggot.or.id