Menjadi Mahasiswa Malang

Menjadi Mahasiswa Malang
ilustrasi: mojok.co

CAKSYARIF.MY.ID – Menjadi mahasiswa Malang memang sangat menyenangkan. Kota yang masih tergolong sejuk tersebut memiliki iklim mahasiswa yang kalem dan suka diskusi. Kemudian, berbagai warung kopi menjadi tempat para mahasiswa nongkrong untuk diskusi berbagai hal-hal yang menarik.

Cak Syarif,” seseorang memanggilku.

Kini aku sedang menikmati kopi di warungnya Tante. Warung kecil tersebut ada di pinggir jalan sekaligus ada di depan makam. lebih tepatnya ada di selatannya makam klasman, Jln. Candi.

“Ngopi sini, Cak Hibban,” ajakku.

Nampaknya, Cak Hibban ini baru pulang kerja. Dia seorang tambal ban di daerah Jln. Terusan Ambarawa.  Hidupnya unik. Selalu punya cerita menarik. Dia hanya lulus SMP, tapi minat bacanya sungguh luar biasa.

Sore itu, Hibban bercerita banyak hal kepadaku, terutama mengenai mahasiswa. Menurut Hibban, Menjadi Mahasiswa Malang ini punya keunikan tersendiri.

Baca juga:  Kota Malang dan Jalan Ninja Tukang Tambal Ban

“Apa uniknya?” tanyaku.

“Dia punya 1001 cara untuk bersikap santuy, kawan,” jawabnya.

Kemudian dia menjelaskan mengenai keterkaitan antara iklim suhu yang dingin akan membuat mahasiswa semakin nyaman. Terutama mahasiswa-mahasiswa yang punya uang saku cukup, sebab mereka akan enggan keluar dari kontrakan untuk berbicara mengenai kebijakan-kebijakan publik yang merugikan.

“Sampai-sampai kampus UM aja terkenal sebagai Kampus paling santuy di jagat maya,” celetuknya.

Memang benar apa yang dikatakan oleh Hibban. Menjadi mahasiswa malang kadang membuat saya agak jenuh. Gini-gini aja. Kurang berisik. Tapi dari yang saya tahu, mahasiswa malang sudah menjadi bagian yang diperhitungkan di skala nasional.

Malang memiliki banyak kampus-kampus unggulan, kemudian hal itu dapat dilihat dari banyaknya melahirkan generasi terbaik bangsa. Walau pun kadang S2 atau S3-nya tidak di Malang, tapi mereka lahir dari darah mahasiswa Malang.

Baca juga:  Buku Buku Komunis dan Seorang Calon Tukang Tambal Ban di Malang

“Tapi menurutku, menjadi mahasiswa aja sudah sangat beruntung,” kata Hibban lagi.

Kemudian dia menjelaskan panjang lebar mengenai enaknya menjadi mahasiswa dari pada tukang tambal ban. Akan tetapi saya tahu, itu hanya ungkapan untuk menghibur saya, sebab yang saya kenal, ia termasuk manusia yang selalu punya sudut pandang untuk bersyukur dalam berbagai situasi apa pun.

“Kamu sudah membaca Novel Menorah, Cak Syarif?” tanya Hibban.

“Belum,”

“Wah,.. Eman-eman. Itu termasuk novel bagus ber-genre misteri yang ditulis juga oleh mahasiswa Malang, sebab darinya aku maleh ingin menjadi mahasiswa Malang,”. [*]