Digitalisasi di Tubuh PMII dan Problem Kulturalnya

Digitalisasi di Tubuh PMII dan Problem Kulturalnya (freepik.com)
Digitalisasi di Tubuh PMII dan Problem Kulturalnya (freepik.com)

Caksyarif.my.idDigitalisasi di Tubuh PMII dan Problem Kulturalnya. Saat ini dunia memasuki era baru yang disebut dengan era revolusi industri 4.0 istilah ini lahir dari ide revolusi industri ke empat. European Parliamentary Research Service (EPRS) menyampaikan bahwa revolusi industri terjadi empat kail. Revolusi industri pertama terjadi di inggris pada tahun 1784 di mana penemuan mesin uap dan mekanisasi mulai menggantikan pekerjaan manusia.

Kedua, terjadi pada akhir abad ke-19 dimana mesin-mesin produksi yang ditenagai oleh listrik digunakan untuk kegiatan produksi secara massal. ketiga, penggunaan teknologi komputer untuk otomatis manufaktur mulai tahun 1970 menjadi tanda pada revolusi industri ketiga. Keempat, pada era sekarang dimana perkembangan teknologi yang sangat cepat mulai ditandainya dari munculnya teknologi sensor, interkoneksi, dan analisis data memunculkan gagasan untuk menyatukan seluruh teknologi tersebut ke dalam berbagai bidang industri. Pada tahap inilah manusia sudah memasuki era revolusi industri 4.0.

Tak selesai disitu, sekarang kita akan memasuki pada era revolusi industri 5.0 yang merupakan konsep yang secara fundamental dapat mengubah cara kita hidup, bekerja, dan berhubungan satu dengan yang lain. Yang mulai menyentuh pada dunia virtual, berbentuk konektivitas manusia, mesin dan data, yang dikenal dengan istilah Internet Of Thinks (IOT). Salah satu karakteristik dari industri 5.0 adalah pengaplikasian kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI).

Digitalisasi di Tubuh PMII dan Problem Kulturalnya

Berkembangnya era revolusi industri 5.0 tentunya berdampak juga pada organisasi yang berafiliasi pada pendidikan. Hal ini karena ilmu yang dimiliki oleh manusia dapat digantikan oleh teknologi sedangkan penerapan soft skill maupun hard skill yang dimiliki oleh manusia tidak dapat digantikan. Dalam kasus ini PMII harus menawarkan perubahan dalam konsep yang berbeda yakni perlunya memberikan muatan materi keilmuan maupun pengkaderan yang bisa meningkatkan kader dalam dimensi pedagogik, keterampilan hidup, kolaboratif, berfikir kritis dan kreatif, mengembangkan soft skill dan transversal skill, keterampilan interpersonal, kemampuan berpikir global, serta literasi media dan informasi (Digitalisasi di Tubuh PMII).

Revolusi industri yang merupakan antithesis dari revolusi industri 4.0 yang memicu kemampuan adaptasi manusia dan teklogi digital semakin nyata. Contoh kecil di era yang serba digital ini, masyarakat dapat menggunakan digital sebagai alat kontrol terhadap kebijakan pemerintah melalului media sosial sebagai sarana untuk mengembalikan marwah demokrasi dan menggairahkan kembali kohesi sosial di negara kita.

Baca juga:  PMII Cabang Kota Malang dan Kehidupan Intelektual

Kehadiran industri 5.0 yang semula di prediksi 20 tahun setelah era 4.0 ternyata akan tiba lebih cepat, yakni hanya bertransisi sekitar 10 tahun karena dengan kehadiran teknologi telekomunikasi 5G dan masifnya platform digital Over The Top menjadi pemicu kehadiran industri 5.0. hal ini menjadi bukti bahwa, arah gerak dunia bukan lagi si besar mengalahkan si kecil, yang banyak mengalahkan yang sedikit, tetapi siapa yang cepat akan mengalahkan siapa yang lambat.

Oleh karenanya, PMII harus cepat menanggapi zaman, kita masih gagap dalam mengikuti arus perubahan zaman, kita masih memakai paradigma lama tidak ada teori-teori pembaharuan yang di ajarkan pada kader yang ikut MAPABA maupun PKD, keterbatasan renfrensi untuk meningkatkan pemahaman tentang NDP pun lemah, sehingga acapkali materi-materi yang di sajikan monoton dan lebih ironisnya yang menjadi pemateri itu-itu saja orangnya karena selain keterbatasan refrensi juga minimnya SDM yang mumpuni.

Ujungnya, PMII kerap ada pada pusaran dilema: disatu sisi, PMII ingin mempertahankan tradisi lamanya, tetapi disisi lain PMII juga harus meng- akomodir ide-ide kreatif tentang apa yang kekinian. Dalam konteks ini terjadi kontra produktif, di sisi lain perubahan dan kebutuhan zaman sangat cepat, tapi di sisi lain PMII masih gagap untuk menuju ke arah sana sehingga cara yang sering diambil menstop siapa yang cepat bukan malah mendorong mereka yang berjalan lambat.

Kultur yang terbangun di PMII

Kultur yang terbangun di PMII sampai saat ini masih berpandangan bahwa mahasiswa yang tidak pernah membaca buku madilog, das kapital, di identik dengan mahasiswa yang kurang keren bukan aktivis. hal ini menyebabkan terjadinya kesenjangan pengetahuan antara kader yang belajar di fakultas eksakta ketimbang kader yang belajar di fakultas humaniora. Tentu, orang yang belajar di fakultas ekonomi akan lebih mengenal adam smith, karl marx yang hukum lebih tau banyak tentang montesquieu, john locke karena itu menjadi konsumsi di ruang-ruang kelas dan refrensi buku bacaannya mereka, berbeda halnya ketimbang mereka yang belajar tehnik, biologi. Kendatipun ada mahasiswa tekhnik yang paham tentang karl marx ini akan berakibat pada bias pengetahuan karena mereka tidak fokus apa yang menjadi tunggung jawab dia dalam belajar. hal ini cukup relevan dengan pribahasa yang lumrah di dengar “galilah sumur ditengah-tengah rawan”.

Ukuran-ukuran aktivisme di dalam tubuh PMII yang sudah mendarah daging sampai saat ini perlu kita rubah mindsetnya. Bukan pada mereka yang handal berbicara tentang isme-isme yang kerapkali di juluki aktivis tapi bagaimana kader PMII mampu mendalami bidang keilmuannya masing-masing.

Baca juga:  The Future of Learning, Visi Pendidikan yang Lebih Holistik

Diantara stagnasi yang kita alami sekarang ini adalah minimnya kader-kader PMII yang mempersiapkan diri untuk berkiprah di sektor-sektor penting. Politik masih menjadi sektor strategis yang banyak di incar oleh kader PMII. sehingga akibatnya PMII kurang memiliki SDM yang mumpuni untuk duduk di leading sectors (spesialisasi profesi) seperti arsitek, kader yang ahli di pertambang perminyakan, IT (information technologiy), akuntan, manejer, hakim, jaksa dan Analis laboratorium dll.

Kampus hanya sekadar kamuflase

Kampus hanya sekadar kamuflase menjaring kelas pekerja “ucap seorang aktivis PMII”. Mahasiswa berpredikat summa cum laude dari fakultas eksakta sekali pun, kadang bernasib lebih tragis ketimbang rekan seangkatannya yang indeks prestasinya di bawah angka dua. Sebagian mahasiswa cerdas ini frustrasi dengan dirinya yang jadi anomali di masyarakat. Bahkan sudah jadi pemahaman umum jika seorang sarjana tak tahu cara menerapkan ilmunya dalam kehidupan.

Organisasi PMII seharusnya hadir dengan membawa value pada kenyataan hidup yang seperti sekarang, bahwa PMII mampu dijadikan wadah bagi mereka yang ingin belajar cerdas dengan keilmuannya dan sensitif dengan jiwa aktivisnya pada isu-isu kemanusiaan dan tetap kritis pada pemerintahan. Yang terjadi justru Pmii kurang memberi nilai tambah sebagai daya tarik secara kualitatif (prestasi), kegiatan-kegiatan yang di adakannya juga tidak selaras dengan kebutuhan pokok pelajaran di kampus dan pasca setelah lulus dari kampus. Maka tidak ada yang perlu di salahkan ketika kader PMII sangat minim rasa kepemilikannya (Sense of belonging) terhadap organisasi ini. Proses Kaderisasi yang dijalankan setiap tahun dan menghasilkan banyak anggota maupun kader yang melimpah. Tapi harus diakui, semua proses di dalamnya belum menjamin terciptanya kader-kader yang mumpuni dibidangnya dan berkarakter sebagai leader serta memiliki skill untuk menuju jenjang pada profesi.

Maka tentu sangat di sayangkan jika organisasi sebesar PMII yang memiliki tipologi kader di berbagai perguruan tinggi masih stagnan proses pengkaderannya pada ideologisasi, gender, paradigma, perebutan kursi politik. bukan berarti hal tersebut menjadi tidak baik, tetapi kita harus bergerak lebih cepat menyesuaikan dengan keadaan dan kebutuhan zaman seperti sekarang yang dapat mudah menggantikan seluruh sistem lama dengan cara-cara yang baru, menggantikan pemain lama dengan pemain baru. Oleh karena itu, PMII perlu mempersiapkan pengembangan keterampilan kader PMII untuk penyesuaian dengan perubahan zaman (Digitalisasi di Tubuh PMII).

*Oleh: Ach. Nadzirun Ilham (Pengurus Komisariat Universitas Islam Malang – UNISMA)

Artikel ini telah terbit di website resmi PMII Kota Malang