Kartini dalam Seni Oleh Andika Putra Adi Prasetyo

Kartini dalam Seni Oleh Andika Putra Adi Prasetyo
Kartini dalam Seni Oleh Andika Putra Adi Prasetyo

Caksyarif.my.id – Artikel kali ini akan saya muat dengan judul “Kartini dalam Seni Oleh Andika Putra Adi Prasetyo”, karena memang ini tulisan Andika kader PMII Kota Malang.

Kartini dalam Seni Spesial Hari Lahir RA Kartini

Selain memiliki nilai kepatronan dalam gerakan emansipasi perempuan, R.A Kartini juga mempunyai peran penting dalam bidang kesenian. Mungkin karena dia lahir dari lingkungan yang cukup kental dengan nuansa budaya, singga membuatnya terangsang untuk berpetualang di dunia estetika. Melalui beberapa taman narasi yang telah dipetik, Kartini jatuh cinta dengan menulis, melukis, ukir dan batik.

Bahkan, batik yang bertuliskan Handscrift Jepara telah berhasil mencengkram pandangan Ratu Belanda bernama Wilhelmina untuk tidak berpaling pada kekaryaan yang lainnya. Karya itu dikirim oleh Kartini pada Pameran Nasional Karya Perempuan pada tahun 1989 di Den Haag, Belanda. Oleh sebab dan karenanya, bisa dikatakan R.A Kartini sebagai Duta Batik Indonesia yang kali pertama memperkenalkan batik hingga mancanegara.

Sedangkan dalam buku berjudul The Complete Writings karya Jost Cote, dikatakan bahwa tidak sedikit surat Kartini yang menyebut tentang seni dan kriya, telah mengalami mati suri setelah pembuatan Gong senen oleh Adipati Tjitrosomo, serta akibat mulai ditinggalkannya pelabuhan Jepara. Namun setelah Het Klaverblad Van Jepara menampilkan ukiran ukiran yang setiap detailnya mengandung etika dan estetika, berbagai pesanan dari belanda mulai membajiri Jepara.

Baca juga:  PMII Pada Era Digitalisasi, Progresivitas Kader Millenial dalam Aswaja

Tidak tanggung tanggung, kelahiran sebuah buku berjudul “Panggil Aku Kartini saja” adalah sebuah bentuk kekaguman serta pengakuan Pramoedya Ananta Toer atas kegigihan R.A Kartini melalui jalur sastra dalam mengeluarkan dirinya dari sekapan tembok kabupaten selama bertahun tahun. Seni sebagai medium perlawanan inilah yang kemudian oleh Pram disebut sebagai manifes kepengarangan Kartini.

Lantas, maksud dari sekian bahasa cinta yang bermekaran dari pemikiran Kartini, menjadi tamparan kasih sayang di sudut beranda sejarah gerakan perempuan. Walau barangkali, berkali kali harus layu dalam pangkuan para aktivis perempuan, nyawa sebuah karya lebih panjang dari seorang pengkarya. Sehingga sekalipun didiamkan atau bahkan di tolak, Kartini menjadi lebih hidup dari kehidupan sebelumnya. Menjadi hantu menakutkan bagi pelaku penindasan, namun selalu dirindukan oleh para seniman pergerakan.

Sebagai refleksi rutinan disetiap titik algoritma perjuangan, Hari kartini bukan sebatas kemenangan yang perlu dirayakan. Sembari terus menyerap aura positif di hari kelahirannya, usaha Kartini dalam menjadikan seni sebagai medium perlawanan adalah sebuah alternatif. Dimana setiap dari kita seharusnya tidak lagi memperkeruh diri dengan saling melempar percakapan seputar gender. Sehingga bukan hanya tentang melucuti pemikirannya saja, tapi lebih bagaimana pesan yang ingin disampaikan oleh salah satu daun semanggi itu, melalui medium ini, bisa sampai pada jiwa jiwa yang kolot dengan keangkuhan diri.

Baca juga:  Semakin Massif, Berikut Media Daring 43 PC IPNU Se-Jatim

Jauh lebih baik sebelum memberikan apresiasi setinggi ekspetasi sebelum memulai, barangkali di antara kita perlu saling mengerti, memahami dan bebas berekpresi pada setiap dimana kaki ini berpijak, Kartini selalu hadir. Melihat anak cucu generasinya tumbuh subur, menabur pendidikan yang berkebudayaan, memperjuangkan dengan berkesinian. Bahwa untuk menyampaikan sesuatu, perlu medium tertentu. Bahwa pendidikan tidak selalu serius melulu, dan jika pendidikan tidak menjadikan orang itu bebas, ia bukanlah Kartini. Karena Kartini tidak mengatakan begitu.

*Penulis adalah Sekretaris LSO Seni dan Budaya PC PMII Kota Malang

Artikel ini telah terbit di website resmi PMII Kota Malang