Mulai Gaduh Capres 2024

Gaduh Capres 2024
Sumber: tempo.co

CAKSYARIF.MY.ID –  Gaduh capres 2024 mulai muncul dan semakin ramai diperbincangkan. Tentang capres tersebut menjadi perbincangan mulai kelas emak-emak hingga di elit partai politik.

Pilpres selalu menjadi sorotan oleh seluruh partai politik. Kemudian, tahun ini (2021) rakyat Indonesia sudah punya suguhan narasi-narasi yang jelas-jelas mengarah ke sana, tentang Capres-Cawapres. Padahal, pilpres masih akan berlangsung pada tahun 2024.

Narasi tentang pilpres masih sangat dini jika melakukan pembacaan saat ini. Sebab, elektabilitas tokoh-tokoh nasional masih dapat naik-turun, bahkan berubah sama sekali di tahun 2023 mendatang (saat pendaftaran Capres-Cawapres).

Saya sebenarnya juga tertarik mengenai uforia gaduh capres 2024. Apa lagi saat di kampus juga aktif di politik. Namun, ada hal yang mengganjal bagi saya untuk membicarakan Capres tersebut. Sesekali hati nurani saya merasa muak. Kadang juga jengkel. Betapa tidak, pembangunan negara ini menguras keringat rakyat yang membayar pajak tiap hari, tapi rakyat pula yang selalu sengsara karena pejabat yang korup.

Baca juga:  PMII Cetak Kader Digital Melalui Kaderisasi Berbasis Data

Presiden Masih Banyak PR

Alih-alih bercara Pilpres 2024, berita yang saat ini beredar, telah terjadi korupsi dana Bansos senilai Rp100 Triliun. Itu masih di Kemensos, belum kementerian yang lain. Beberapa hari yang lalu Mahfud MD juga menjustifikasi tentang semakin meluasnya korupsi.

“Namun harus diakui setelah reformasi, korupsi makin meluas. Sekarang atas nama demokrasi yang diselewengkan, korupsi tidak lagi dilakukan di eksekutif tetapi sudah meluas secara horizontal ke oknum-oknum legislatif, yudikatif, auditif, dan secara vertikal dari pusat sampai ke daerah-daerah,” tutur Mahfud dilansir dari Kompas.com.

Jangankan masalah korupsi, masalah HAM saja belum terurus dengan benar. Padahal Jokowi berjanji mengurus kasus-kasus pelanggaran HAM yang ada. Dan yang ada malah menambahkan masalah HAM baru di Papua. Gitu kok udah mulai gaduh Capres 2024.

Baca juga:  Kampanye Media Sosial dan Kajian Strategis untuk Rebut Kesetiaan Politik

“Jokowi-Ma’ruf itu dulu kan juga pilihanmu?” kata seorang kawan kepadaku.

Kata siapa? jawabku dalam batin. Saat Pilpres 2019, saya termasuk golongan yang ikut bedah film Sexy Killer di Malang. Dan sampai hari Pemilu saya masih tetap di Malang dengan berbagai kesibukan sebagai mahasiswa UM.

Namun, ini sudah bukan soal siapa memilih siapa, tapi mengenai apa saja yang sudah terlaksana dari yang terpilih. Sudahkah menyentuh hal-hal kongkret sesuai apa janjinya, sesuai kebutuhan rakyat? Kalau belum, kenapa udah gaduh Capres 2024? [*]

Pejalan kaki di Kota Malang