Wawancara Perdana LPDP, Kesan dan Optimisme Yang Muncul

Caksyarif.my.id – Wawancara Perdana LPDP, Kesan dan Optimisme Yang Muncul. Salah satu hari yang membuatku cemas adalah hari itu. Hari di mana saya diwawancara oleh tiga orang dari suatu lembaga negara. Bukan wawancara melamar kerja, bukan pula interogasi perkara pidana atau perdata, namun mengenai minat studi lanjut S2.

Hari Rabu pertama di bulan April 2024, Wawancara Perdana LPDP saya berlangsung. Seorang perempuan memulai sesi wawancara dengan menyepaku terlebih dahulu. Intonasinya pelan, namun jelas dan tegas. Namanya Ibu Nike. Perempuan hebat yang nanti (ketika dia mewawancarai saya) akan saya ketahui bahwa dia adalah seorang psikolog.

Ibu Nike memperkenalkan kedua partnernya. Pertama, ada Pak Agus. Saya yakin dia dari pihak lembaga negara tersebut. Kemudian ada Pak Rahman, menurutku dia adalah seorang akademisi (dosen), pasti sudah Doktor, bahkan bisa jadi seorang guru besar (Profesor).

Ibu Nike memulai sesi pertama wawancara dengan mempersilahkan Pak Agus terlebih dahulu. Kemudian Pak Agus menyapa saya dengan mempertanyakan kabar dan hal-hal sederhana untuk mencairkan suasana. Mungkin dia tahu kalau saya agak cemas dan mungkin nervous.

Baca juga:  PMII Pada Era Digitalisasi, Progresivitas Kader Millenial dalam Aswaja

Secara umum dalam wawancara perdana LPDP saya, Pak Agus lebih mempertanyakan alasan “Kenapa saya betah kuliah di UM (Kenapa tidak ingin pilih S2 di UNY, UNESA, UPI, UNJ, UNNES, dll)? Dan kenapa saya ngambil S2 Pendidikan Sejarah?” Memperdalam alasan-alasan saya fokus ke Pendidikan Sejarah. Pertanyaan-pertanyaan dari Pak Agus saya jawab dengan cukup mudah.

Tak terasa 15 menit telah berlalu. Kemudian dilanjutkan oleh Pak Rahman. Dia menggali persiapan rencana tesis saya. Mulai judul tesis, metodologi, dosen pembimbing, hingga relevansi riwayat kerja dan penelitian skripsi S1 saya sebelumnya.

Wawancara saat itu berlangsung selama 45 menit. Masing-masing pewawancara memiliki durasi 15 menit. Ibu Nike menjadi yang terakhir mewawancarai saya.

Baca juga:  PMII Cabang Kota Malang dan Kehidupan Intelektual

Wawancara Perdana LPDP, Kesan dan Optimisme Yang Muncul

 

Secara umum, wawancara dari Pak Agus dan Pak Rahman relatif mudah saya jawab. Sebab, saya sudah menguasai pertanyaan-pertanyaan itu sebelumnya. Saya telah mengikuti Mock Up wawancara LPDP yang dimentori oleh awardee LPDP UM, beberapa hari sebelumnya.

Namun, saat sesi wawancara oleh Ibu Nike, saya sempat grogi. Ada satu-dua pertanyaan yang di luar dugaan. Dan saya benar-benar blank, kemudian terpaksa saya harus melakukan improvisasi. Berusaha mengendalikan diri, dan menjawab dengan yakin.

‘Untung Ibu Nike menjadi pewawancara terakhir. Kalau di awal, maka bakal hancur, dan akan hancur sampai akhir. Bahaya!’, ucapku dalam hati.

Pak Rahman dan Pak Agus memberikan respon positif atas rencana penelitian tesisku. Setidaknya, dari situ saya memiliki harapan besar untuk lulus tahap seleksi wawancara ini. Optimis pasti lulus Wawancara LPDP!

Nganjuk, 7 April 2024

[Menanti Pengumuman 10 Juni 2024]

 

Pejalan kaki di Kota Malang