Jika Kau Bukan Anak Presiden atau Gubernur, Maka Menulislah!

Seorang Penulis
sumber ilustrasi: mojok.co

CAKSYARIF.MY.ID – Saya bukan seorang penulis cerpen, apa lagi novel. Namun saya suka membaca cerpen dan novel. Dari hobi tersebut menjadikan saya punya minat untuk melakukan langkah kecil untuk menulis.

Saya juga bukan seorang mahasiswa yang ikut UKM Kepenulisan di kampus. Namun, saya aktif di luar kampus. Ada Lembaga Semi Otonom PMII yang saya ikuti, tempat belajar menulis dan bernalar kritis.

Selain itu, saya juga sudah tercatat sebagai wartawan. Khususnya di internal organisasi IPNU. Sebab saya pernah mendapat amanah sebagai Sekretaris Lembaga Pers di Pimpinan Anak Cabang (PAC) Ngronggot, dan juga Direktur di Lembaga Pers Pimpinan Cabang (PC) Nganjuk.

Baca juga: Buku Buku Komunis dan Seorang Calon Tukang Tambal Ban di Malang

Hasrat menulis itu saya tuangkan di berbagai portal online yang dapat saya akses. Dan semua itu tidak muncul begitu saja, sebab banyak yang memotivasi akan hal tersebut.

Sebagai pelajar, gemar menulis bukanlah hal yang mengagumkan, apa lagi sampai mendapat pujian yang berlebihan. Sebab, sejak PAUD kita sudah belajar menulis. Setiap hari kita menulis saat sekolah. Sependek apa pun tulisan itu.

Baca juga:  Belajar Membaca dan Fungsinya dalam Kehidupan

Menulis bukanlah soal pintar atau tidak, tapi lebih pada soal rajin atau malas. Rajin sama sekali tidak ada soal dengan pintar, sebab sepintar apa pun kita, akan kalah dengan teman kita yang rajin.

Jadi, masa belajar sangat tepat untuk memupuk kerajinan dalam menulis. Entah menulis esai pupuler, artikel ilmiah, puisi, atau cerpen.

Jika Kau Bukan Anak Presiden, Maka Menulislah

Salah satu ulama besar, yaitu Imam Ghazali juga berkata,
“Jika kau bukan anak raja, juga bukan anak ulama besar, maka menulislah!”

Baca juga: Mulai Gaduh Capres 2024

Selain itu, seorang tokoh sastrawan Indonesia terkemuka yang lahir di awal zaman pergerakan nasional (akhir masa Hindia Belanda), yaitu tahun 1925 di Blora, berkata:

Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian. [Pramoedya Ananta Toer]

Pesan Pram di atas menjadi salah satu inspirasi penguat untuk kita agar sebisa mungkin mencatat dan menulis hal-hal apa pun yang baik untuk ditulis dan dipublikasikan. Sesederhana apa pun tulisan itu.

Baca juga:  Bali Travel Forum dan Tempat Wisata Bali yang Wajib Dikunjungi

Selain kalimat Pram tersebut, seorang kakak seperguruan saya pernah berkata:
“Menulislah. Jangan cemas jika tulisanmu tidak ada yang baca, sebab kelak tulisan itu pasti akan menemui sendiri pembacanya,” [Bibah Pidi]

Akan tetapi sebagai penyeimbang, menjadi seorang penulis juga harus rajin membaca. Apa pun buku yang kita baca, pasti ada manfaatnya. Jangan takut ‘salah’ baca buku (menurut orang lain), sebab pelajar memang boleh salah. Sedangkan yang tidak boleh adalah berhenti dan konsisten dalam kesalahan (yang memang menyalahi aturan, nilai, dan norma).

_________________________________

Catatan ini merupakan edisi revisi dari yang sebelumnya rilis di www.pelajarnungronggot.or.id

Pejalan kaki di Kota Malang