Entrepreneur sebagai Solusi Terbaik Untuk Kaderisasi PMII di Era Digital

Entrepreneur sebagai Solusi Terbaik Untuk Kaderisasi PMII di Era Digital
Entrepreneur sebagai Solusi Terbaik Untuk Kaderisasi PMII di Era Digital (freepik.com)

Caksyarif.my.id – Entrepreneur sebagai Solusi Terbaik Untuk Kaderisasi PMII di Era Digital. Sekarang ini kita sudah berada di kondisi atau zaman yang mana seluruh kegiatan yang mendukung kehidupan sudah bisa dipermudah dengan adanya teknologi yang serba canggih. Seperti yang kita ketahui, Indonesia bahkan dunia telah merayakan hari lahir covid-19 yang ke -3 tahun. Yang mana hampir segala kehidupan dilakukan via teknologi-teknologi yang canggih sehingga mengharuskan setiap orang untuk memahami dan menggunakan teknologi tersebut.

Lantas bagaimana nasib PMII? Masihkah Kaderisasi PMII berjalan sesuai dengan 5 argumentasi kaderisasi PMII? Masihkah Kaderisasi PMII berjalan sesuai dengan kultur nya? Apakah Intelektual kader PMII sudah disesuaikan dengan era digital?

Entrepreneur sebagai Solusi Terbaik Untuk Kaderisasi PMII di Era Digital

Baiklah, kita akan memulai dengan PMII itu sendiri. PMII adalah organisasi ekstrauniversiter yang masuk dalam kategori organisasi non provit yang berfokus pada penanaman nilai-nilai.

Berbicara penanaman nilai, tidak terlepas bahwa itu merupakan salah satu proses kaderisasi.Tetapi,melihat PMII khususnya PMII Kota Malang dan lebih khususnya PMII tingkat rayon, tiga tahun terakhir selalu mengalami penurunan kader dari segi kuantitasnya.

Mungkin wajar jika pada tahun pertama,covid-19 dijadikan alasan,tetapi sudah tidak wajar lagi jika covid-19 sampai saat ini masih menjadi permasalahan. Selain itu, alasan-alasan lainnya yang dijadikan permasalahan ialah terletak pada kebijakan kampus-kampus yang memberi keputusan kuliah dilaksanakan via daring/online,sehingga banyak mahasiswa-mahasiswa baru yang tidak bisa dirangkul karena sulitnya menjalin kedekatan emosional.

Upaya yang dilakukan pengurus tingakat rayon untuk mencegah penurunan kuantitas kader ini yakni dengan mempelajari perkembangan teknologi. Proses pengkaderan tidak lagi hanya offiline di kopian tetapi juga diadakan via online lewat aplikasi baru yang sudah booming yakni zoom, classroom, google meet dan lain sebagainya. Sehingga pada tahun ke-3 covid-19 kuantitas kader mulai mengalami penaikan walau tidak seperti sebelum covid-19.

Baca juga:  Kartini dalam Seni Oleh Andika Putra Adi Prasetyo

Tidak hanya dari segi kuantitas,dalam kegiatan penanaman nilai-nilai dan pemberdayaan anggota juga mengalami ketidakcocokan dengan tujuan organisasi. Dimana saat ini, pengurus rayon selaku yang mewadahi anggota terkesan sekedar merealisasikan program kerja,seakan-akan tiada bedanya antara PMII dengan suatu lembaga pelatihan,yang mana prinsipnya “setidaknya terealisasi”,sehingga kultur PMII mulai memudar. Selain itu, anggota baru selalu dijejali dengan pembahasan-pembahasan yang mengarah pada politik seakan-akan menjadi politis/politikus adalah cita-cita nomor satu walau yang diajarkan hanya politik tingkat kampus.

Padahal di era yang serba digital sekarang ini, tidak sulit untuk menentukan passion atau mengalokasikan intelektual kader. Misalnya, kita juga bisa mengajak kader untuk menekuni dunia marketing online. Apakah masih sesuai dengan tujuan PMII? Ya, masih sangat sesuai.

Entrepreneur sebagai Solusi

Dilansir dari data.tempo.co, berdasarkan laporan Badan Pusat Statistik (BPS), jumlah pengangguran di Indonesia pada Agustus 2021 adalah sebesar 9,10 juta penduduk. Pernahkah PMII mengkhususkan pembedayaan kader untuk mencegah tingkat pengangguran di Indonesia? Mungkin tingkat PB mendiskusikan hal itu, tetapi apakah kita yakin hal itu akan sampai ke kader tingkat rayon? Dan apakah kita yakin bahwa semua kader PMII akan terus berproses sampai tingat PB?

Jangan kan PB PMII, meneruskan ke tingkat pengurus rayon pun masih sangat sedikit yang mau. Hal inilah yang menjadi minus nya di PMII, kurangnya sentuhan langsung ke rayon-rayon yang mana rayon merupakan fondasi dari proses pengkaderan.

Baca juga:  PMII Pada Era Digitalisasi, Progresivitas Kader Millenial dalam Aswaja

Sangat memprihatinkan ketika masih banyak kader PMII yang setelah lulus dari kuliahnya masih bingung mau kemana,sehingga tidak sedikit kader PMII juga termasuk yang menambah jumlah pengangguran.

Sebagai mahasiswa pergerakan ,kita harus berbeda. Jangan sampai kita tetap sama dengan yang lainnya yang menenteng ijazah mencari pekerjaan.Kita harus mampu menciptakan lapangan pekerjaan.

Di era yang serba digital sekarang,perlu adanya pembangunan kesadaran oleh kader-kader PMII bahwa kedepannya tenaga kerja manusia akan dibatasi, semuanya akan menggunakan teknologi yang serba canggih.Setidaknya,Kader PMII harus dibekali dengan pelatihan marketing khususnya bisnis online. Jangan sampai kader terus dimanjakan oleh gadget yang mana gadget juga bisa dimanfaatkan untuk memulai kehidupan.

Lagi-Lagi kader PMII harus berbeda,harus sudah memulai menumbuhkan jiwa-jiwa entrepreneur sejak dini,jangan terus-terus diajak diskusi tentang keberadaan tuhan atau perkara kopi dan gelas yang belum usai.

Bahkan, jiwa entrepreneur kader bisa dibentuk walau masih berada dibangku kuliah. Karena melihat era yang canggih ini kita bisa menjalan kehidupan walau tidak beranjak dari tempat tidur. Sudah saatnya PMII berpikir jauh kedepan tentang kader-kadernya.Jangan sampai PMII melahirkan kader yang menggadaikan idealisnya hanya untuk memenuhi kebutuhan perutnya.

Nasib PMII akan baik-baik saja bahkan sangat baik jika kuantitas dan kualitas kader bisa dibentuk sejak dini.Nasib PMII akan baik-baik saja jika kita tidak terpaku pada program kerja yang saya yakin turun temurun dari senior pendahulu walau ada sedikit yang di revisi. Dan PMII akan mengalami masa kejayaan jika kader-kader PMII dapat menumbuhkan jiwa-jiwa enterpreneurnya.

 

*Oleh : Ismawati* (Pengurus Rayon Ekonomi “Revolusi”) 

Artikel ini telah terbit di website resmi PMII Kota Malang (https://pmiikotamalang.or.id)

Pejalan kaki di Kota Malang