PMII di Era Society 5.0, Penyoal Peran Intelektual Kader

PMII di Era Society 5.0, Penyoal Peran Intelektual Kader (freepik.com)
PMII di Era Society 5.0, Penyoal Peran Intelektual Kader (freepik.com)

Caksyarif.my.id – PMII di Era Society 5.0, Penyoal Peran Intelektual Kader. Mahasiswa tidak lepas dari dua pengertian yang saling komplementer, pertama predikat “maha” yang berarti “besar” menempatkan mahasiswa pada posisi atau status sosial yang tinggi, dalam arti memiliki kapasistas mental – sosial yang patut dibanggakan, yakni idealisme yang tinggi, kejujuran, keterbukaan, kreativitas, menolong yang lemah, berani dan berbagai predikat yang lain, yang mana sulit dicapai oleh golongan yang lain. Kedua, mahasiswa dianggap memiliki kapasitas kecerdasan otak  atau intelektual yang melebihi kelompok lain, yang ditunjukkan dengan kemampuannya untuk menganalisis persoalan, memecahkan persoalan penting dalam kehidupan sosialnya, melakulan kajian pada persoalan yang baru atau up-to date, mendalami ilmu, tampil dalam mimbar ilmiah, perdebatan akademik, dan lain sebagainya.

Aktualisai dari kedua fungsi tersebut ditampilankan dalam berbagai kegiatan, baik yang bernuansakan ilmiah – akademik,, religius, hura – hura, lomba karya ilmiah, penyaluran hobby sampai dengan memunculkan dalam bentuk sebuah gerakan sosial atau lebih dikenal dengan unjuk rasa ataupun demo. Definisi Mahasiswa diatas dikutip dari buku “Mahasiswa dan Gerakan Sosial yang ditulis oleh Drs. Andik Matulessy, Msi”

PMII di Era Society 5.0, Penyoal Peran Intelektual Kader

Peradaban dunia sudah mengalami banyak sekali perubahan, mulai zaman kolot akan ilmu teknologi dimana manusia masih menggunakan batu sebagai alat penompang hidup mereka, mulai dari berburu sampai tempat tinggal pun tak lepas dari unsur batu, zaman itu disebut Zaman Paleolitikum atau zaman purba. Seiring berkembangnya pola pikir yang dimiliki oleh manusia, lambat laun mereka semakin maju akan peradaban dunia, hingga kini alat teknologi dapat menggantikan fungsi dari manusia dibidang ekonomi bahkan industri.

Baca juga:  Kampanye Media Sosial dan Kajian Strategis untuk Rebut Kesetiaan Politik

Indonesia kini maju dan berkembang akan ilmu teknologinya, sekarang Indonesia masuk dalam Society 5.0. Society 5.0 sendiri baru saja diresmikan 2 tahun yang lalu, pada 21 Januari 2019 dan dibuat sebagai resolusi atas resolusi industri 4.0. Konsep resolusi Industri 4.0 dan Society 5.0 sebenarnya tidak memiliki perbedaan yang jauh, akan tetapi konsep Society lebih focus pada konteks terhadap manusia.

Sudah genap dua Tahun Indonesia dilanda Virus Covid – 19 yang mengubah seluruh kegiatan baik di sektor ekonomi, pariwisata, sampai dengan jenjang pendidikan mengalami perubahan yang drastis. Sejak 16 Maret 2020 lalu, pemerintah mengeluarkan kebijakan agar jenjang pendidikan disetiap tingkatan menggelar kegiatan belajar-mengajar secara daring (dalam jaringan) atau yang sering kita sebut belajar online.

Di lingkup Universitas proses belajar mengajar hanya melewati media zoom, google meet, youtube, bahkan via wa, yang mana dapat mengurangi tingkat kualitas para mahasiswa. Kegiatan organisasi baik internal maupun eksternal kampus terkena kendala atas pagebluk Covid – 19 ini. Lantas apa yang seharusnya dilakukan oleh para Kader PMII dalam menyikapi hal seperti demikian?

PMII adalah organisasi ekstrernal kampus yang mana berbasis ideologis, yang nantinya para kader – kader PMII ini memiliki ideologis kritis transpormatif dalam menyikapi persoalan – persoalan yang ada. Di era digital yang serba ada ini, para kader PMII tak boleh terlena akan kenyaman yang telah tersedia, mereka harus memanfaatkan dengan baik dan tak tenggelam akan derasnya arus globalisasi. Contohnya : para kader PMII harus dapat memilih serta memilah segala bentuk informasi yang tersebar luas di media massa dengan valid, jikalau mereka tak pandai dalam hal itu maka mereka tak ada acuan atau pegangan dalam menyelesaikan isu-isu terkini lewat diskursus-dikursus yang dilakukan dalam setiap kajian yang ada. Seperti isu terkini perihal kelangkaan minyak goreng dan kenaikan harga BBM.  Tak hanya itu para kader PMII juga dapat memanfaatkan era digital ini dengan menggunakan media massa sebagai alat yang sangat berguna. Contohnya : mengeksistensikan ideologis PMII melalui podcast yang nantinya disebar luaskan melewai  platform-platform seperti youtube, facebook, instragam, dan lain sebagainya. Karna apa, agar masyarakat dapat memahami serta memgetahui  keadaan terkini melalui diealektika – dialektika  yang dikemas dalam didunia virtual.

Baca juga:  Digitalisasi di Tubuh PMII dan Problem Kulturalnya

Kader-kader PMII tidak boleh bersikap acuh tak acuh dalam segala bentuk perubahan peradaban dunia, karna mereka kelak akan terjun kemasyarakat untuk mensosialisasikan hal tersebut supaya masyarakat tetap berjalan pada norma – norma dan ketentuan yang berlaku. Oleh karna itu kader-kader PMII harus peka dan jeli dalam setiap menganalisis keadaan sekitar.

Pola pikir yang dimiliki oleh kader-kader pmii dan kemajuan teknologi perlu adanya perpaduan yang selaras sehingga terciptanya kombinasi yang nantinya akan membawa evolusi bagi masyarakat awam dan merubah peraturan yang melenceng dari norma-norma yang diberlakukan.

*Oleh: Syahrul Faiz (Kader PMII Rayon Al – Farabi – FEB UNISMA)

Artikel ini telah terbit di Website resmi PMII Kota Malang

Pejalan kaki di Kota Malang